Memetik Hikmah, Dibalik Musibah Sepanjang Tahun 2025

Minggu 04-01-2026,12:29 WIB
Reporter : Muthmainnah Kurdi, S. Ag
Editor : Fidiani

Kemudian angin kencang 66 kali, kebakaran pemukiman 47 kali, tanah longsor 21 kali, dan banjir bandang 1 kali.

Tidak termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Menurut kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, banjir paling banyak terjadi di Musi Banyuasin dengan 10 kejadian, Muara Enim dan OKU masing-masing 10 kejadian.

Angin kencang di Ogan Ilir sebanyak 33 kejadian, Banyuasin 10 kejadian. Kebakaran terbanyak di Palembang dengan 33 kejadian, sedangkan tanah longsor di Ogan Ilir 7 kejadian.

Fokus Masalah

-----------

Ada pertanyaan besar, mengapa bencana alam baik banjir atau yang lainnya selalu berulang tiap tahunnya?

Seolah menjawab pertanyaan, bahwa penanggulangan yang ada belum maksimal. 

Bencana hidrometeorologi tidak datang tiba-tiba.

Ada unsur pemantik yang berasal dari sistem hidup yang diemban warganya.

Baik itu warga yang memegang kebijakan publik (pemerintah) maupun masyarakat sipil. 

Ternyata, sistem hidup ini (sekuler kapitalisme) mengedepankan manfaat dalam setiap perbuatan, maka pengelolaan sumber daya alam (SDA) juga berbasis untung rugi.

Bukan untuk sebanyak-banyaknya kesejahteraan dan keamanan masyarakat dan lingkungan, sekaligus menafikan aspek spiritual (pertanggungjawaban kepada Allah).

Faktanya, penerapan sistem sekuler kapitalisme (menghapus peran agama dan memihak pemodal) telah memproduksi kerusakan ekologis atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. 

Dalam sistem ini terjadi kolaborasi antara dua keburukan, yaitu kerakusan kapitalis dan regulasi negara yang longgar.

Kolaborasi ini telah memproduksi kerusakan alam yang akan terus memunculkan bencana yang mengorbankan rakyat banyak.

Kategori :