Tingginya Angka Golput di Pilkada Banyuasin, Partisipasi Pemilih Hanya 66 Persen

Tingginya Angka Golput di Pilkada Banyuasin, Partisipasi Pemilih Hanya 66 Persen

Pj. Bupati Banyuasin sedang meninjau jalannya Pilkada 2024--Roni

BACA JUGA:Pasangan Askolani-Netta (ASTA) Unggul di 13 Kecamatan Berdasarkan Data Real Count

Selain itu, Eddy menyebutkan bahwa masyarakat kurang antusias karena kedua pasangan calon dianggap berasal dari "orang lama" yang sebelumnya sudah menjabat, sehingga dianggap tidak membawa inovasi baru untuk Banyuasin.

"Masyarakat merasa siapapun yang menang tidak akan memberikan perubahan besar bagi daerah," tambahnya.

Rendahnya partisipasi juga disoroti dari aspek sosialisasi pemilu.

Menurut Eddy, pemerintah daerah, KPU, dan Bawaslu belum menyentuh semua lapisan masyarakat.

Ia mengkritisi kegiatan sosialisasi yang lebih sering digelar di tempat-tempat mewah, seperti di kota Palembang, sementara daerah pelosok justru kekurangan informasi.

"Ironisnya, warga yang tinggal di daerah terpencil, yang sangat membutuhkan edukasi tentang pentingnya pemilu, tidak tersentuh oleh program ini," katanya.

Fenomena tingginya angka golput ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, dan tokoh masyarakat.

Diperlukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan partisipasi pemilih, seperti:

  • Mengadakan kampanye di daerah-daerah pelosok dengan pendekatan langsung kepada masyarakat.
  • Mempertimbangkan hari pencoblosan agar lebih mendukung masyarakat perantauan untuk pulang menggunakan hak pilihnya.
  • Menampilkan calon pemimpin dengan visi-misi yang benar-benar membawa inovasi bagi kemajuan Banyuasin.

Harapan besar tertuju pada Pilkada mendatang, agar lebih banyak masyarakat Banyuasin terlibat aktif dalam menentukan arah masa depan daerahnya.

“Kita semua harus bekerja sama untuk membangun kesadaran akan pentingnya partisipasi dalam demokrasi,” pungkas Eddy.

Sumber: