Kabut Asap vs Abu Vulkanik, Mana yang Lebih Berbahaya?

Kamis 10-09-2026,09:00 WIB
Reporter : Yanti
Editor : Yanti

Kelompok seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara perlu lebih berhati-hati.

Saat kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama ketika asap terlihat pekat atau menimbulkan bau menyengat.

6. Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan

Abu vulkanik dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.

Saat abu beterbangan, seseorang dapat mengalami batuk, bersin, hidung tidak nyaman, atau tenggorokan terasa gatal.

Partikel abu juga dapat mengganggu mata, terutama jika seseorang berada di luar ruangan tanpa perlindungan.

Karena itu, ketika terjadi hujan abu, sebaiknya masyarakat tidak berlama-lama berada di luar rumah.

Abu yang sudah mengendap juga sebaiknya tidak langsung disapu dalam kondisi kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan.

Membersihkan permukaan dengan cara yang meminimalkan debu dapat membantu mengurangi paparan.

7. Cara Melindungi Diri

Perlindungan terhadap kabut asap dan abu vulkanik memiliki beberapa kesamaan.

Salah satunya adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara buruk.

Gunakan masker yang mampu menyaring partikel dengan baik ketika harus keluar rumah.

Masker juga perlu dipakai dengan benar agar menutupi hidung dan mulut.

Untuk kabut asap, perhatikan informasi kualitas udara dan batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika polusi meningkat.

Sementara ketika terjadi hujan abu, masyarakat perlu mengikuti arahan resmi mengenai aktivitas gunung api dan kondisi wilayah masing-masing.

Kategori :