Kabut Asap vs Abu Vulkanik, Mana yang Lebih Berbahaya?

Kamis 10-09-2026,09:00 WIB
Reporter : Yanti
Editor : Yanti

Keduanya juga dapat menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

Namun, abu vulkanik cenderung lebih mudah terlihat sebagai lapisan debu ketika mengendap di permukaan.

Kabut asap lebih sering dikenali melalui udara yang berkabut, bau asap, dan kondisi atmosfer yang tercemar.

4. Mana yang Lebih Berbahaya?

Tidak ada jawaban mutlak bahwa salah satunya selalu lebih berbahaya.

Tingkat bahayanya bergantung pada konsentrasi polutan, ukuran partikel, durasi paparan, kondisi cuaca, serta kondisi kesehatan seseorang.

Kabut asap dengan konsentrasi partikel halus yang tinggi dapat berbahaya jika terhirup dalam waktu lama.

Paparan dapat menyebabkan batuk, tenggorokan terasa mengganjal, sesak, mata perih, sakit kepala, hingga memperburuk keluhan pernapasan pada orang yang sensitif.

Sementara itu, abu vulkanik juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan iritasi.

Selain kesehatan manusia, abu vulkanik yang tebal dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mengotori sumber air yang terbuka, merusak mesin tertentu, serta mengurangi jarak pandang.

Dengan demikian, keduanya sama-sama perlu diwaspadai.

Jika konsentrasi kabut asap atau abu vulkanik sangat tinggi, masyarakat sebaiknya mengurangi paparan dan mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara maupun aktivitas gunung api.

5. Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan

Kabut asap dapat memberikan dampak yang berbeda pada setiap orang.

Paparan dalam waktu singkat dapat menyebabkan mata berair atau perih, hidung terasa tidak nyaman, batuk, dan tenggorokan kering.

Jika paparan berlangsung lebih lama atau konsentrasi partikelnya tinggi, gangguan pernapasan dapat menjadi lebih berat.

Kategori :