Sidat umumnya bisa tumbuh lebih besar dan lebih berat dibandingkan belut sawah biasa.
Perbedaan Habitat dan Kebiasaan Hidup
Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak pada pola hidupnya.
Belut cenderung menetap di satu habitat sepanjang hidupnya, biasanya di sawah atau rawa.
Sebaliknya, sidat melakukan migrasi panjang dari sungai menuju laut untuk berkembang biak, sebuah perjalanan yang dapat menempuh ribuan kilometer.
Karena kebiasaan migrasinya tersebut, populasi sidat di alam sangat bergantung pada kelestarian sungai dan jalur migrasi yang tidak terhalang.
Kerusakan lingkungan dan pembangunan bendungan tanpa jalur ikan sering menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan sidat.
Nilai Gizi dan Nilai Ekonomi
Keduanya sama-sama memiliki kandungan protein yang tinggi, namun sidat biasanya memiliki kandungan lemak sehat dan omega-3 lebih tinggi, sehingga sering dianggap lebih bergizi.
Hal inilah yang membuat harga sidat jauh lebih mahal dibandingkan belut.
Belut tetap memiliki nilai ekonomi yang baik di tingkat lokal karena mudah dibudidayakan dan permintaannya stabil.
Sementara itu, sidat lebih banyak menjadi komoditas ekspor dengan harga yang bisa berkali-lipat lebih tinggi.
Serupa Tapi Tak Sama
Kesamaan bentuk tubuh membuat sidat dan belut sering disalahartikan sebagai hewan yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam biologi, habitat, hingga nilai ekonominya.
Belut lebih dikenal sebagai penghuni sawah yang mudah ditemukan dan dibudidayakan, sedangkan sidat merupakan ikan migrasi bernilai tinggi dengan siklus hidup yang unik dan kompleks.
Memahami perbedaan ini bukan hanya penting bagi pecinta kuliner atau pelaku budidaya, tetapi juga bagi upaya pelestarian lingkungan perairan.