Dari segi keawetan, lampu LED juga unggul jauh.
Umur pakai lampu bohlam rata-rata hanya sekitar 1.000 jam pemakaian.
Filamen di dalamnya mudah putus, terutama jika sering dinyalakan dan dimatikan.
Berbeda dengan LED yang tidak menggunakan filamen, sehingga lebih tahan terhadap getaran dan perubahan arus listrik.
Lampu LED rata-rata mampu bertahan hingga 15.000–25.000 jam, bahkan lebih tergantung kualitas produk.
Soal penghematan biaya, meski harga awal lampu LED lebih mahal dibandingkan lampu bohlam, dalam jangka panjang LED justru lebih ekonomis.
Konsumsi daya lampu LED bisa mencapai 70–80 persen lebih rendah dibandingkan bohlam biasa dengan tingkat pencahayaan yang sama. Artinya, tagihan listrik bulanan dapat ditekan secara signifikan.
Selain itu, lampu LED juga lebih ramah lingkungan. Umur pakainya yang panjang mengurangi limbah lampu, dan konsumsi energi yang lebih rendah membantu menekan penggunaan listrik secara berlebihan.
Berbeda dengan lampu bohlam yang cepat rusak dan harus sering diganti, sehingga menambah jumlah sampah rumah tangga.
Dari sisi keamanan, lampu LED menghasilkan panas yang jauh lebih rendah, sehingga mengurangi risiko kebakaran akibat suhu lampu yang terlalu tinggi.
Hal ini menjadikan LED lebih aman digunakan untuk rumah tangga, perkantoran, hingga fasilitas umum.
Melihat berbagai perbedaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lampu LED lebih awet, lebih hemat listrik, dan lebih aman dibandingkan lampu bohlam biasa.
Meski membutuhkan biaya awal yang sedikit lebih besar, lampu LED memberikan keuntungan jangka panjang yang lebih besar bagi masyarakat.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan efisiensi energi, penggunaan lampu LED kini menjadi pilihan tepat untuk mendukung gaya hidup hemat, aman, dan ramah lingkungan di masa depan.