Tiga Tahun Putus Sekolah, Siswi di OKI Akan Kembali Belajar Lewat Program Kesetaraan

Tiga Tahun Putus Sekolah, Siswi di OKI Akan Kembali Belajar Lewat Program Kesetaraan

Tiga Tahun Putus Sekolah, Siswi di OKI Akan Kembali Belajar Lewat Program Kesetaraan--

HARIANBANYUASIN.COM – Sudah tiga tahun Aisyah (bukan nama sebenarnya), warga Desa Tanjung Sari I, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tidak lagi mengenyam pendidikan formal. Gadis berusia 13 tahun itu terakhir tercatat sebagai siswa kelas V sekolah dasar.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, Aisyah tinggal bersama neneknya, Saimah (69), di sebuah rumah kayu sederhana yang sebelumnya tidak layak huni. Kondisi tersebut terungkap saat Bupati Ogan Komering Ilir, Muchendi Mahzareki, bersama Ketua Tim Penggerak PKK OKI, Ike Muchendi, berkunjung dalam agenda Safari Ramadan, Rabu, 4 Maret 2026.

Dalam perbincangan di rumah tersebut, diketahui Aisyah telah lama meninggalkan bangku sekolah. Dengan suara pelan, ia mengaku enggan kembali belajar karena kerap menerima ejekan dari teman sebaya. Pengalaman itu membuatnya merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah. Ketidakhadiran yang awalnya hanya sesekali, perlahan berujung pada keputusan berhenti sepenuhnya.

Fenomena anak putus sekolah tidak selalu berkaitan dengan persoalan ekonomi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka partisipasi sekolah usia 13–15 tahun di Kabupaten OKI tergolong tinggi, yakni 89,12 persen. Namun, masih terdapat anak yang terhenti pendidikannya akibat faktor sosial dan psikologis. Pada usia remaja awal, penerimaan sosial sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan motivasi belajar.

Dalam pertemuan tersebut, Muchendi menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan membantu agar Aisyah dapat kembali melanjutkan pendidikan.

“Pendidikan tetap penting, apa pun keadaan keluarga. Pemerintah akan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan agar ia bisa kembali belajar,” ujarnya.

Untuk mengejar ketertinggalan, Aisyah akan didampingi mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A setara sekolah dasar guna menuntaskan jenjangnya. Sementara itu, kebutuhan seragam sekolah akan dipenuhi melalui program bantuan seragam sekolah gratis dari pemerintah daerah.

Selain memastikan akses pendidikan, Pemerintah Kabupaten OKI juga memugar rumah Saimah melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah kayu yang sebelumnya rapuh kini diperbaiki agar lebih aman dan layak ditempati.

Bagi Saimah, bantuan tersebut meringankan beban yang selama ini ia tanggung seorang diri.

“Saya hanya ingin cucu saya sekolah lagi, supaya nasibnya lebih baik dari kami,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ketua TP PKK OKI, Ike Muchendi, menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses tumbuh kembang anak perempuan seusia Aisyah.

“Anak-anak pada usia ini sedang mencari jati diri. Mereka perlu didengar dan didampingi. Kita ingin memastikan ia tumbuh dengan percaya diri dan tidak merasa sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, TP PKK akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, perangkat desa, dan pihak sekolah untuk memberikan pendampingan berkelanjutan, termasuk memastikan kesiapan psikologis Aisyah saat kembali belajar.

Saat ditanya, Aisyah mengaku masih memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah. “Saya sebenarnya ingin sekolah lagi,” ucapnya singkat.

Sumber: