Sosok Ayah Berubah Menjadi Predator
Ummu Afifah (Aktivis Dakwah)--doc.istimewa
BACA JUGA:Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu, Buah Pahit Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Generasi
Inilah jika sistem kehidupan yang diatur berasal dari akal manusia. Sistem buatan manusia ini bersifat Sekuler.
Dimana sistem tersebut memisahkan aturan agama dalam kehidupan.
Agama hanya mengatur ibadah ritual saja, seperti : sholat, puasa, zakat dan haji, tidak ada yang menyelisih meskipun perbedaan ada dalam fikih itu tidak masalah.
Padahal aturan islam itu menyeluruh untuk mengatur sistem kehidupan umat manusia.
Kehidupan yang diatur dengan aturan agama yang seharusnya menjadi filter bagi kehidupan kini aturan kehidupan diserahkan kepada aturan manusia itu sendiri.
Tentulah aturan manusia itu tidak dibenarkan mengatur seluruh urusan kehidupan karena akal yang digunakan untuk membuat aturan tersebut dangkal atau terbatas.
Aturan buatan manusia akan lebih condong menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain.
Terjadinya pencabulan tersebut disebabkan kerena pelanggaran syariat islam, seorang ayah seharusnya sebagai pelindung keluarga.
Sementara ibunya yang bekerja di luar negeri sebagai pencari nafkah hingga menitipkan keamanan putrinya kepada suaminya.
Masalah yang terjadi tidak akan pernah teratasi dengan tuntas disebabkan solusinya hanya memberikan perlindungan lewat UU yang kapan saja dapat ditabrak hingga nilai keadilan hilang dan tidak membuat efek jera.
Efek jera harusnya diberlakukan bagi setiap orang yang melakukan pelanggaran/kejahatan/jarimah agar tidak ada pelaku kejahatan lain mencontohnya.
Keadilan hanya isapan jempol yang acap kali bisa dicampakkan kapanpun selagi yang punya perkara pelaku memiliki jabatan atau uang.
Akhirnya negara ini yang berslogan negara hukum adalah bulsit karena hukum tergantung siapa yang berani bayar mahal.
Hukum itu menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Begitulah realita hidup dalam Sistem Kapitalis Sekuleris.
Sumber: