Ketika Miskin Bukan Takdir, Tapi Dipaksa Downgrade

Jumat 23-10-2026,17:18 WIB
Reporter : Melia Apriani
Editor : Fidiani

HARIANBANYUASIN.COM - Kita tidak lagi hidup. Kita hanya berusaha untuk tidak mati.

Itulah definisi paling jujur dari mode bertahan hari ini, orang-orang miskin dipaksa downgrade martabatnya hanya demi sepiring nasi.

Secara harfiah, downgrade berarti penurunan kelas, penurunan pangkat, penurunan versi, atau perpindahan kepada kondisi yang lebih rendah dari sebelumnya. Istilah ini merupakan kebalikan dari upgrade.

BACA JUGA:Perundungan, Sebuah Budaya Kelam

BACA JUGA:Rekening Massal, demi Kepentingan Siapa?

Ekonom sekaligus Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menanggapi fenomena downgrading yang tengah ramai diperbincangkan di tengah ekonomi yang bergejolak.

Ia menerangkan, kelas menengah yang besar dan kuat adalah kunci menuju status negara berpendapatan tinggi.

Namun dalam tujuh tahun terakhir, kelas menengah justru semakin rapuh dan mengecil.

BACA JUGA:Kebakaran Lahan dan Hutan Berulang, Mengapa ?

BACA JUGA:Darurat Remaja Terjangkit HIV, Islam Punya Solusi

Penduduk kelas menengah tercatat jatuh dari 60,8 juta orang (23 persen) pada 2018 menjadi 46,7 juta orang (16,6 persen) pada 2025.

Penduduk yang berada di kelas ekonomi rapuh, yaitu kelompok rentan miskin dan calon kelas menengah, justru semakin mendominasi piramida ekonomi, dari 68,5 persen pada 2018 menjadi 74,5 persen pada 2025. (Republika.co.id, 10/10/2026).

Kalau dulu tekanan finansial membuat banyak orang makan tabungan (mantab), sekarang lebih banyak yang makan utang (maut). Jika dahulu orang menyisihkan uang untuk menabung, kini banyak orang menyisihkan uang untuk membayar utang.

BACA JUGA:Karhutla, Episode yang Berulang

BACA JUGA:Kasus HIV Tinggi, Butuh Solusi

Kategori :