Perundungan, Sebuah Budaya Kelam

Perundungan, Sebuah Budaya Kelam

Irohima--doc.istimewa

HARIANBANYUASIN.COM - Katanya sekolah itu rumah kedua, tapi bagi sebagian anak, kadang rumah kedua itu tempat belajar cara menghilang, menghilang di balik papan tulis, menghilang di toilet, menghilang dari barisan, dan menghilang di antara tawa teman-teman.

Mereka tidak nakal tapi setiap hari merasakan hukuman yang dibungkus dengan kata “candaan” padahal itu adalah perundungan (bullying). 

Dunia pendidikan kita kembali muram, aksi perundungan di sekolah kembali menelan korban.

BACA JUGA:Rekening Massal, demi Kepentingan Siapa?

BACA JUGA:Kebakaran Lahan dan Hutan Berulang, Mengapa ?

Kali ini menimpa seorang siswa sekolah dasar di Pemalang bernama Aqib (7), yang meninggal dunia usai diduga menjadi korban perundungan kakak kelasnya.

Sang ibu menuturkan terdapat luka memar di perut dan kaki korban. Kasus ini kemudian ditangani oleh Sat Reskrim dan Polsek Pemalang (detikjateng, 02/10/2026).

Kasus ini menambah panjang catatan kelam perundungan yang terjadi di lembaga pendidikan.

BACA JUGA:Darurat Remaja Terjangkit HIV, Islam Punya Solusi

BACA JUGA:Karhutla, Episode yang Berulang

Dari data pemantauan JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan selama periode 2020-2025.

Dari awalnya yang berjumlah 91 kasus di tahun 2020, meningkat menjadi 614 kasus di tahun 2025.

Perundungan bisa muncul akibat kombinasi faktor dari lingkungan keluarga, kondisi psikologis pelaku, pengaruh kelompok serta kurangnya pengawasan di sekolah.

BACA JUGA:Kasus HIV Tinggi, Butuh Solusi

Sumber: