Berikut beberapa penyebab utama munculnya perundungan:
1. Faktor keluarga dan pola asuh
- Anak yang sering melihat dan mendapat kekerasan fisik di rumah akan mendapatkan pemahaman bahwa agresi adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah.
- Pola asuh terlalu keras dan permisif, hukuman fisik yang berlebihan atau sebaliknya serta kebiasaan membiarkan anak bertindak semena-mena tanpa aturan dan pengawasan, akan dapat memicu perilaku agresif
- Anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang cemderung melakukan perilaku agresif seperti perundingan sebagai cara untuk mendapat perhatian.
2. Faktor Psikologis dan pribadi pelaku.
- Kurangnya empati. Pelaku sering tidak mampu memahami atau merasakan penderitaan korban.
- Keinginan untuk berkuasa dan memegang kontrol. Pelaku biasanya ingin menunjukkan kekuatan, mendominasi orang lain atau haus validasi.
- Harga diri rendah. Mirisnya sebagian pelaku memiliki rasa rendah diri atau menyimpan trauma seperti pernah menjadi korban, hingga mereka melakukan perundungan untuk menutupi kelemahan mereka.
3. Faktor lingkungan sekolah dan sosial
- Pengaruh kelompok sebaya (peer pressure), adanya dorongan ingin diterima dalam sebuah kelompok tertentu membuat anak ikut-ikutan melakukan perundungan agar tidak dikucilkan.
- Kurangnya pengawasan institusi. Lemahnya pengawasan dari pihak sekolah membuat celah terjadinya kekerasan antar siswa.
- Faktor pendidikan yang hanya kognitif. Pendidikan yang terlalu mengutamakan nilai akademik tanpa menyertakan pendidikan karakter, empati dan resolusi konflik yang baik.
4. Faktor media dan teknologi.
- Paparan konten kekerasan. Keseharian anak-anak yang akrab dengan gadget membuat mereka sering meniru dan rentan terpapar oleh tayangan kekerasan di media, film, atau video game.
- Kemudahan cyberbullying. Internet memberi rasa aman palsu berupa anonimitas, yang membuat seseorang lebih berani melontarkan kebencian atau teror secara daring.