Bobot yang ringan membuatnya mudah dikendalikan di jalan perkotaan.
Mio M3 memiliki jarak sumbu roda 1.275 mm dan ground clearance 135 mm.
Karakternya sedikit berbeda karena bodi dan mesin 125 cc memberikan sensasi berkendara yang lebih berisi.
Untuk pengguna yang setiap hari menghadapi kemacetan, harus sering berhenti dan melakukan manuver sempit, BeAT menjadi pilihan menarik.
Sebaliknya, Mio M3 lebih cocok bagi pengguna yang menginginkan sensasi mesin 125 cc tanpa harus beralih ke skutik berukuran besar.
Mana yang Lebih Irit dan Tahan Lama?
Jika dibuat sederhana, Honda BeAT unggul pada efisiensi BBM, bobot ringan, dan kelincahan, sedangkan Yamaha Mio M3 unggul pada kapasitas mesin, tenaga, dan torsi.
Dalam hal konsumsi bahan bakar, data pengujian yang tersedia menunjukkan BeAT berpotensi lebih irit.
Mio M3 memang juga terkenal efisien dan Yamaha pernah membuktikan konsumsi sekitar 53,6 km/liter dalam pengujian ketahanan tertentu.
Untuk performa, Mio M3 lebih unggul di atas kertas. Mesin 124,96 cc menghasilkan 7,0 kW dan 9,6 Nm, dibandingkan BeAT 109,5 cc dengan 6,6 kW dan 9,2 Nm.
Sedangkan untuk ketahanan, keduanya bisa menjadi motor jangka panjang selama perawatan dilakukan secara disiplin.
Jangan hanya mengejar konsumsi BBM, tetapi perhatikan pula servis CVT, penggantian oli, kondisi ban, rem, dan sistem pendinginan.
Honda BeAT lebih cocok bagi pengguna yang mengutamakan irit BBM, motor ringan, lincah, dan praktis untuk aktivitas perkotaan.
Konsumsi bahan bakarnya menjadi salah satu daya tarik utama.
Yamaha Mio M3 lebih cocok bagi pengguna yang menginginkan mesin lebih besar dan performa lebih kuat, terutama ketika motor sering digunakan berboncengan atau menghadapi jalan yang membutuhkan tenaga lebih.
Jadi, tidak ada pemenang mutlak. Jika prioritas Anda adalah biaya operasional serendah mungkin, pilih BeAT.