Angka tersebut tentu bukan jaminan konsumsi di penggunaan sehari-hari karena hasil aktual dipengaruhi berat pengendara, kondisi jalan, tekanan ban, gaya berkendara, hingga kemacetan.
Sementara itu, Yamaha Mio M3 menggunakan mesin 124,96 cc Blue Core.
Yamaha pernah melakukan pengujian ketahanan mesin Mio M3 secara nonstop dan mencatat konsumsi sekitar 53,6 km/liter dalam salah satu pengujian tersebut.
Dengan demikian, jika prioritas utama adalah menghemat pengeluaran bensin untuk perjalanan rutin, BeAT lebih menarik.
Kapasitas mesinnya yang lebih kecil dan bobot motor yang ringan membantu menekan kebutuhan bahan bakar.
Performa: Mio M3 Lebih Bertenaga
Keunggulan beralih ke Yamaha Mio M3 ketika pembahasannya adalah performa.
Mio M3 125 menghasilkan tenaga maksimum 7,0 kW pada 8.000 rpm dan torsi 9,6 Nm pada 5.500 rpm.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan BeAT yang menghasilkan 6,6 kW dan 9,2 Nm.
Perbedaan kapasitas mesin juga terasa. Dengan mesin hampir 125 cc, Mio M3 memiliki ruang lebih besar untuk menghasilkan tenaga ketika berakselerasi.
Saat digunakan berboncengan atau membawa barang, karakter tersebut bisa menjadi keuntungan.
BeAT bukan berarti lambat. Bobotnya yang ringan membuat motor ini terasa lincah ketika digunakan di perkotaan.
BeAT memiliki berat kosong sekitar 87-88 kg, tergantung varian, sehingga lebih mudah diajak bermanuver di antara kendaraan.
Mio M3 terbaru memiliki berat isi sekitar 101 kg. Karena itu, karakter keduanya berbeda: BeAT terasa ringan dan gesit, sementara Mio M3 menawarkan tenaga mesin yang lebih besar.
Untuk penggunaan di jalan datar dan lalu lintas padat, BeAT sudah lebih dari cukup.
Namun, bagi pengendara yang sering melewati jalan menanjak atau membawa penumpang, Mio M3 memiliki keunggulan tenaga.