Zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah sehingga membantu mencegah anemia.
Fosfor penting untuk kesehatan tulang dan gigi, sementara zinc berfungsi mendukung sistem kekebalan tubuh serta mempercepat proses penyembuhan luka.
Manfaat lain dari mengonsumsi burung belibis adalah kemampuannya dalam meningkatkan stamina dan energi tubuh.
Kandungan nutrisi di dalamnya membantu tubuh tetap bertenaga, sehingga daging belibis kerap dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan sebagai lauk untuk menunjang aktivitas fisik yang berat, seperti bekerja di sawah atau kebun.
Dalam pengobatan tradisional, daging burung belibis juga dipercaya dapat membantu memulihkan kondisi tubuh setelah sakit.
Meski kepercayaan ini masih bersifat turun-temurun dan belum sepenuhnya dibuktikan secara ilmiah, kandungan gizi yang lengkap memang dapat membantu proses pemulihan jika dikonsumsi dengan porsi yang tepat.
Dari sisi kuliner, burung belibis dapat diolah menjadi berbagai hidangan lezat, seperti digulai, dipanggang, atau dimasak dengan bumbu rempah khas daerah.
Aroma dan rasa dagingnya yang khas membuat hidangan belibis memiliki penggemar tersendiri, terutama di kalangan pencinta kuliner tradisional.
Namun demikian, penting untuk memperhatikan aspek kelestarian dan aturan hukum.
Di beberapa wilayah, burung belibis termasuk satwa yang dilindungi atau populasinya mulai menurun.
Oleh karena itu, konsumsi belibis sebaiknya berasal dari hasil penangkaran resmi, bukan dari perburuan liar, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Dengan kandungan gizi yang tinggi dan rasa yang khas, burung belibis memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif.
Jika dikelola secara bijak dan berkelanjutan, konsumsi burung belibis tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga dapat mendukung pelestarian satwa dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.