HARIANBANYUASIN.COM - Fenomena alam bernama Midnight Sun merupakan salah satu kejadian paling unik yang terjadi di wilayah kutub, khususnya di Antartika, saat musim panas tiba.
Fenomena ini membuat matahari bersinar tanpa henti selama 24 jam penuh, seolah waktu berhenti dan malam hari tidak pernah datang.
Bagi manusia yang terbiasa dengan siklus siang dan malam seperti di Indonesia, kondisi ini terdengar hampir mustahil, namun Midnight Sun adalah kenyataan ilmiah yang dapat dijelaskan secara astronomis.
BACA JUGA:Mengenal Kallima inachus, Kupu-Kupu dengan Sayap Tercantik dan Kamuflase Ekstrem
BACA JUGA:Yaeyama Blenny: Satpam Kecil Penjaga Terumbu Karang
Penyebab utama Midnight Sun adalah kemiringan sumbu bumi yang mencapai sekitar 23,5 derajat.
Kemiringan ini membuat bagian bumi tertentu menerima paparan sinar matahari secara ekstrem pada waktu tertentu dalam setahun.
Ketika Antartika memasuki musim panas, Kutub Selatan akan terus-menerus menghadap ke arah matahari.
Akibatnya, matahari tidak terbit dan tenggelam secara vertikal seperti yang biasa kita lihat di daerah tropis, melainkan bergerak memutar secara horizontal di atas garis cakrawala sepanjang hari.
Durasi fenomena Midnight Sun tidak sama di setiap wilayah Antartika.
Semakin dekat suatu lokasi ke pusat Kutub Selatan, semakin lama matahari akan bersinar tanpa henti.
Di daerah pinggiran Lingkar Antartika, Midnight Sun mungkin hanya berlangsung beberapa hari atau minggu.
Namun, tepat di titik nol Kutub Selatan (South Pole), matahari dapat terlihat terus-menerus selama sekitar enam bulan penuh, dari sekitar bulan September hingga Maret, tanpa pernah benar-benar tenggelam.
Kondisi cahaya abadi ini memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem Antartika.
Meskipun terlihat sunyi dan ekstrem, wilayah ini dihuni oleh berbagai organisme seperti fitoplankton, krill, ikan, hingga predator besar seperti anjing laut dan paus.