Amerika Serikat Mengobarkan Perang Dagang, Bagaimana Sikap Negeri-Negeri Muslim Seharusnya?
dampak perang ekonomi Amerika bagi dunia Islam--
HARIANBANYUASIN.COM - Akhir-akhir ini dunia diguncangkan dengan kebijakan yang diterapkan oleh Trump terhadap tarif bea masuk impor di dalam perdagangan internasional.
Sebenarnya hal ini bertentangan dengan prinsip teori kapitalisme yang mengusung perdagangan bebas, yaitu yang lahir dari ekonomi liberal, di mana perdagangan bebas yang diterapkan oleh sistem kapitalis yaitu dengan membuka pasar secara luas tanpa ada pembatas dan negara tidak boleh ikut campur di dalamnya.
Namun kita ketahui bersama, bahwasannya Amerika Serikat (AS) sebagai negara adidaya yang merasa paling kuat dan juga merupakan negara imperialis, akhirnya dia sendirilah yang menodai prinsip kapitalisme yang mereka agung-agungkan, yaitu dengan memberlakukan pembatasan barang yang masuk melalui kebijakan tarif.
BACA JUGA:PHK Sritex, Korban Kebijakan Serampangan
BACA JUGA:Telaah Standar Kehidupan yang Benar
Bahkan, dengan kebijakan ini Amerika telah menekan hampir 180 negara untuk mengikuti kemauannya, yaitu dengan tarif bea masuk impor 10% dan tambahan yang lebih tinggi bagi negara-negara tertentu.
Dikutip dari laman hukumonline.com, Trump menerapkan tarif impor 10 persen terhadap negara asing di dunia yang memperdagangkan produk ke AS.
Tarif universal 10 persen ini berlaku efektif mulai Sabtu (5/4/2025). Menurut Trump, tarif impor merupakan respons terhadap tindakan yang diambil negara-negara lain dalam membatasi ekspor produk dari AS.
BACA JUGA:Normalisasi Politik Kartel Sebagai Wujud Pengingkaran Negara Hukum dan Pancasila
BACA JUGA:Bisnis Jual Beli Bayi Makan Marak, Buah Penerapan Ekonomi Kapitalis
Tidak terkecuali Cina yang merupakan target terbesar Amerika.
Karena AS merasa Cina adalah saingan yang berat maka ditetapkanlah khusus bagi Cina tarif impor yang sangat tinggi mulai dari 125% kemudian naik 145% dan terakhir 245% untuk barang-barang tertentu dan ini menjadi harapan bagi Amerika agar Cina bisa melunak dan mau bernegosiasi dengan Amerika.
Namun pada kenyataannya, apa yang diharapkan Amerika itu tidaklah sama dengan fakta yang terjadi, karena ternyata Cina tidak mau bernegosiasi dengan Amerika, bahkan Cina mulai melawan dengan cara memberlakukan tarif balasan sebesar 125% terhadap produk-produk utama asal Amerika, termasuk di dalamnya seperti minyak mentah, gas alam cair, batubara, kendaraan besar dan mesin pertanian.
Tidak sampai disitu Cina pun memperketat kontrol ekspor atas mineral-mineral penting seperti tungsten, tellurium dan molibdenum yang merupakan bahan baku krusial dalam industri semikonduktor dan baterai.
Sumber: