Langit Eropa Membara! Aurora Merah Langka Jadi Bukti Puncak Solar Maximum 2026
Fenomena aurora pada 19–20 Januari 2026 menjadi salah satu peristiwa langit paling spektakuler dalam sejarah modern.--
BACA JUGA:Bikin Merinding! Inilah Brinicle, Es Misterius yang Dijuluki Jari Kematian Laut Kutub
Biasanya aurora identik dengan warna hijau, yang muncul ketika partikel bermuatan dari Matahari bertabrakan dengan atom oksigen pada ketinggian sekitar 100–150 kilometer.
Namun pada peristiwa 19–20 Januari 2026, partikel energi Matahari menghantam oksigen di ketinggian ekstrem, di atas 300 kilometer.
Tumbukan di lapisan termosfer inilah yang menghasilkan pancaran cahaya merah intens.
Warna ini hanya muncul saat badai matahari sangat kuat, karena dibutuhkan energi luar biasa untuk menembus hingga ketinggian tersebut.
Langit di berbagai wilayah Eropa tampak seperti terbakar, dengan semburat merah darah membentang dari cakrawala ke cakrawala.
Di beberapa tempat, warna merah bahkan bercampur ungu dan jingga, menciptakan panorama kosmik yang seolah keluar dari film fiksi ilmiah.
Meluber ke Wilayah Tak Terduga
Secara normal, aurora terkonsentrasi di sekitar Lingkar Arktik dan Antarktika.
Namun badai geomagnetik ekstrem mampu mendorong oval aurora turun ke lintang yang jauh lebih rendah.
Itulah sebabnya warga di Inggris dan Skotlandia dapat menyaksikan aurora jelas dengan mata telanjang, bahkan tanpa kamera khusus.
Fenomena ini juga terlihat hingga Italia Utara dan sebagian wilayah Asia Timur.
Di California Utara, langit merah tipis menghiasi ufuk utara—pemandangan yang hampir mustahil terjadi pada kondisi aktivitas Matahari biasa.
Bukti Puncak Solar Maximum 2026
Peristiwa ini sekaligus menjadi penanda kuat bahwa Bumi telah memasuki fase puncak Solar Maximum 2026.
Sumber: