Karhutla, Episode yang Berulang

Kamis 03-09-2026,12:15 WIB
Reporter : Irohima
Editor : Fidiani

HARIANBANYUASIN.COM - Langit yang biru, kini tertutup lapisan abu-abu. Matahari masuk lewat celah polusi seperti tamu yang malu-malu.

Udara yang dulu bebas mengembara kini membawa beban partikel, asap dan aroma keserakahan manusia-manusia jumawa nan angkuh di setiap waktu berkala, mempertontonkan kuasa mempermainkan jiwa-jiwa yang lemah tak berdaya, menjadikan kita layaknya boneka, memberi kehidupan ala kadarnya, bahkan oksigen yang kita hirup tak lepas dari sabotase mereka.

BACA JUGA:Kasus HIV Tinggi, Butuh Solusi

BACA JUGA:Minim Kuota Solar, Picu Gejolak Sosial

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terulang.

Di sejumlah wilayah di Indonesia masih saat ini masih terus terjadi dan memicu munculnya kabut asap yang menyelimuti hampir seluruh wilayah hingga lintas negara serta memperburuk kualitas udara.

Sampai 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di Sumatera dan Kalimantan telah mencapai 48.889,69 hektar.

BACA JUGA:Hilangnya Penerus Masa Depan Di Tengah Perang

BACA JUGA:Korupsi Merajalela, Bagaimana Sanksi dalam Islam

Pemerintah terus berupaya memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla di Kalimantan dengan memobilisasi 1.500 personel tambahan beserta perlengkapan  perorangan serta 17 pesawat water bombing (www.cnnindonesia.com, 24/08/2026).

Di tengah banyaknya argumen terkait penyebab Kalimantan membara, terdapat satu hal yang sangat memprihatinkan dan tampaknya seperti rumor yang tiap tahun kencang beredar, yakni pembakaran yang memang sengaja dilakukan untuk menuntaskan pembukaan lahan perkebunan.

Fenomena kasus karhutla hampir tiap tahunnya adalah akibat kombinasi faktor cuaca kemarau yang ekstrem serta praktik yang pembukaan lahan dengan cara membakar.

BACA JUGA:Betulkah Pajak Bisa Mensejahterakan Rakyat?

BACA JUGA:Indonesia Surga Mafia Judol Internasional?

Karhutla di Indonesia sendiri, pada faktanya kerap sengaja dilakukan oleh oknum tertentu untuk menekan biaya operasional pembukaan lahan agar lebih murah sebelum dijadikan perkebunan.

Kategori :