HARIANBANYUASIN.COM - Tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menunjukkan perkembangan positif.
Jumlah hotspot dan fire spot terus mengalami penurunan, namun pemerintah tetap meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan karena kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga awal Oktober.
Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru seusai Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla Sumsel 2026 di Griya Agung, Senin (31/8/2026).
BACA JUGA:Pemprov Sumsel Intensif Tangani Karhutla, 53 Kali Tebar Garam
BACA JUGA:Karhutla di Sumsel Ditindak Tegas, 17 Tersangka Masuk Proses Hukum
Raja Juli mengatakan penurunan jumlah titik panas menjadi indikator positif dari kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat.
Meski demikian, Sumsel belum sepenuhnya aman, terlebih September diperkirakan menjadi periode penting dalam penanganan karhutla.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat, petani, pekebun, dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
BACA JUGA:Karhutla Sumsel Meningkat, Herman Deru Ikuti Rakor Nasional Penanganan Kebakaran 2026
BACA JUGA:Edward Candra Tekankan Pengelolaan Keuangan Daerah Harus Tepat Sasaran
Edukasi pencegahan akan terus diperkuat, termasuk melalui keterlibatan generasi muda dan pengguna media sosial.
Sementara itu, Suharyanto menjelaskan berdasarkan data per 30 Agustus terdapat 11 fire spot di Sumsel.
Setelah diverifikasi melalui patroli darat, helikopter, dan drone, seluruh titik tersebut dipastikan merupakan lokasi kebakaran dengan luasan lebih dari 60 hektare.
BACA JUGA:Tol Palembang-Betung Ditargetkan Bisa Difungsionalkan Saat Nataru 2026
BACA JUGA:Feby Herman Deru Evaluasi Program PKK dan Dorong Perlindungan Karya Lokal di Muara Enim