Rukam, Buah Liar Hilang tak Berkesan

Senin 08-06-2026,13:00 WIB
Reporter : Amin Mukri
Editor : Fidiani

Tidak sedikit pula yang membawa pulang rukam dalam kantong atau bakul kecil untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.

Bagi masyarakat pedesaan, rukam bukan sekadar buah liar. Kehadirannya menjadi bagian dari sumber pangan yang tersedia langsung dari alam.

Pada masa ketika jajanan modern belum mudah dijumpai, buah-buahan hutan seperti rukam menjadi teman bermain sekaligus sumber kesenangan bagi anak-anak kampung.

Selain rasanya yang khas, rukam juga diketahui memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi.

Buah ini mengandung berbagai senyawa alami yang bermanfaat bagi tubuh.

Karena itu, di beberapa daerah, bagian tertentu dari tanaman rukam juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Sayangnya, keberadaan pohon rukam kini semakin berkurang.

Pembukaan lahan, berkurangnya kawasan hutan, dan minimnya upaya budidaya membuat pohon ini semakin sulit ditemukan.

Banyak anak-anak masa kini bahkan tidak lagi mengenal bentuk maupun rasa buah yang pernah begitu akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Padahal, rukam bukan hanya bagian dari kekayaan hayati, tetapi juga bagian dari memori budaya masyarakat Melayu Banyuasin.

Di balik rasa asam dan sepatnya tersimpan cerita tentang masa ketika anak-anak bebas bermain di hutan, tentang perjalanan ke talang bersama orang tua, serta tentang hubungan yang begitu dekat antara manusia dan alam.

Mengenalkan kembali buah rukam kepada generasi muda merupakan salah satu cara untuk menjaga ingatan kolektif tersebut.

Sebab ketika sebuah buah hutan hilang dari lingkungan, yang hilang bukan hanya tumbuhannya, melainkan juga sebagian cerita dan pengalaman hidup masyarakat yang pernah tumbuh bersamanya.

Kategori :