Memasuki gim kedua, Leo/Bagas mencoba bangkit. Permainan mereka mulai lebih rapi dan sempat memberikan perlawanan ketat.
Reli-reli panjang tercipta dan pasangan Indonesia mampu menempel perolehan angka hingga memasuki poin-poin krusial.
Sayangnya, di momen penting, lagi-lagi kesalahan sendiri menjadi faktor penentu.
Beberapa pengembalian yang menyangkut di net serta smash yang keluar lapangan membuat momentum yang sempat didapat kembali hilang.
Lee/Yang yang tampil lebih tenang mampu memanfaatkan situasi tersebut untuk mengunci kemenangan 21-19 di gim kedua.
Secara statistik permainan, Leo/Bagas sebenarnya tidak kalah jauh dalam hal serangan.
Namun konsistensi menjadi pembeda utama.
Ketika lawan mampu menjaga ritme dan meminimalkan error, Leo/Bagas justru kerap kehilangan fokus di poin-poin penting.
Hal ini menjadi catatan serius jika ingin kembali bersaing di turnamen besar level Super 1000 seperti All England.
Tersingkir di babak pertama tentu menjadi evaluasi besar bagi pasangan ini.
Apalagi dengan status sebagai runner up tahun sebelumnya, harapan untuk melangkah jauh cukup besar.
Kekalahan ini menunjukkan bahwa persaingan di sektor ganda putra semakin ketat dan tidak ada jaminan hasil hanya berdasarkan capaian musim lalu.
Meski harus pulang lebih cepat dari Birmingham, peluang Leo/Bagas untuk bangkit masih terbuka lebar.
Dengan usia yang relatif muda dan pengalaman tampil di final turnamen bergengsi, mereka masih memiliki modal kuat untuk kembali tampil lebih solid di turnamen berikutnya.
Evaluasi dan perbaikan konsistensi permainan akan menjadi kunci agar hasil serupa tidak kembali terulang.