
Johannes Kitono
Sudah benar dan tepatvkalau Uya Kuya ganti strategi dengan podcastnya. Dulu hanya meliput selebriti dan ikut numpang panggung. Now meliput rakyat jelata yang umumnya pro bono. Tentu itu modal yang bagus untuk menjadi wakil rakyat yang berintegritas.Hitung hitung saat bela rakyat adalah magang atau latihan untuk menjadi anggota Dewan Yang Terhormat. Soal rambutnya mau di cat warna Merah Putih atau warna dominan partai pengusungnya.Merah, Biru, Kuning atau Hijau silahkan saja. Bravo dan selamat berjuang Uya Kuya dan Lae Kamarudin Simanjuntak.
Leong putu
Saya sudah janji, tidak akan menjelek-jelekan Polisi. Namun harus diakui, suka atau tidak suka, ada banyak oknum Polisi yang membuat citra Polisi kurang baik. Tanpa menutup mata, bahwa lebih banyak Polisi berhati mulia. Tapi ada pepatah : nila setitik merusak susu sebelanga. Di jaman serba viral, itu sangat berbahaya. Jangan sampai Polisi yang punya semboyan : "Mengayomi dan melindungi masyarakat" malah menjadi musuh masyarakat. Ironis. Harus berubah. Dan berubahnya jangan hanya semboyan saja. Dari apa menjadi presisi. Jauh panggang dari api. Di kantor pengurusan SIM saja masih terjadi praktek suap-menyuap. "Laporkan kalau ada yang menemukan": begitu kata petinggi Polisi. Itu membuat saya ketawa terbahak-bahak. Lah...kalau pencurian di puncak gunung, tentu saya akan lapor. Kalau di rumah pak Polisi sendiri, masak iya harus lapor ? Aaaah...jangan gitu pak. Bapak pura-punya nyamar saja, dan berlagak bingung. Pasti bisa nangkap. Aaah gitu kok diajari... Salam.
Johannes Kitono
Virgin Air. Terbang dari Denpasar Bali ke Adedaile selama 5 jam cukup melelahkan. Virgin Air tentu tidak virgin lagi kalau harus disesaki oleh ratusan penumpang yang antri saat check in. Harus diakui dalam hal ini service Garuda jauh lebih baik,walaupun saham GIAA sudah merosot hanya tinggal Rp.106 di bursa ( 26/1/2023 ). Penumpang yang sudah bayar airport tax seolah olah tidak dianggap manusia oleh Mgt Angkasa Pura. Instansi pengelola bandara di seluruh Indonesia. Sudah tahu bahwa penerbangan malam hari selalu ramai kok hanya tugaskan 1 a 2 petugas untuk atur ratusan penumpang. Semuanya harus antri depan check in counter sekitar 2 a 3 jam. Anehnya, disekitar check in counter juga tidak ada outlet jual makanan buat penumpang. Benar benar payah dan minus 2 kali. Penumpang harus antri bergerak desakan dan tidak ada jiwa entreprenership mgt Angkasa Pura. Apa susahnya kalau buka outlet: Kopi Kenangan, Kopi Bali atau Kopi dari Surga disana. Untung saja proses awal penerbangan ke Adedaile yang tidak enak ini bisa dihibur oleh buku: Diplomasi Ringan dan Lucu. Kisah Nyata karangan M.Wahid Supriyadi, Duta Besar RI di Rusia merangkap Republik Belarusia. Diplomat - Jurnalis yang Piawai Menulis dan bukunya enak dibaca.
Mirza Mirwan
Saya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang warga negara yang menginginkan institusi Polri punya wibawa di mata rakyat. Caranya, ya setiap anggota Polri harus benar-benar bersikap "to protect and to serve" -- melindungi dan melayani -- dalam bekerja. Menjadi abdi rakyat, bukan merampok rakyat. Sayang sekali, gegara ulah oknum -- saya tetap menyebutnya oknum -- polisi yang kurang ajar, marwah Polri jadi runyam. Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga. Kasihan anggota Polri lain yang bahkan terkadang bekerja melebihi tuntutan pekerjaannya ikut terkena imbasnya. Kasus penyerobotan ratusan kebun sawit di wilayah hukum Polres Rokan Hilir Riau itu jelas mencoreng wajah Polri. Pengusutan kasus itu tak mungkin dilakukan Polres setempat, karena 7 atau 9 oknum yang disebut dalam podcast Uya Kuya kemarin mungkin berasal dari Polres. Jadi harus Polda Riau yang menanganinya. Pengusutannya harus tuntas. Tegas tanpa pandang bulu. Polri tak ingin melihat ada corat-coret "ACAB" atau "1312", tentu saja. Itu akan terasa sangat menyakitkan bagi polisi-polisi yang jujur, yang mengikuti teladan Jenderal Hoegeng. Saya khawatir kalau-kalau lantaran corat-coret ACAB atau 1312 itu lantas kejujuran mereka menghilang. "Percuma bekerja dengan kejujuran kalau tetap dianggap 'bastard'," pikir mereka. Tetapi semoga saja tidak demikian.
Lagarenze 1301
Rasa keadilan dalam diri saya meronta-ronta, tapi tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali menuliskan di kolom komentar CHD ini. Bagaimana bisa kasus KSP Indosurya yang disebut kasus penipuan terbesar di negeri ini dengan angka fantastis Rp 106 triliun, tersangkanya malah divonis bebas oleh hakim PN Jakarta Barat dan diperintahkan segera keluar dari tahanan? Kasus ini masuk ranah pidana ataukah cuma perdata seperti putusan hakim, biarlah Mahfud MD dan para ahli hukum yang membahasnya. Kasasi atau tidak, kita tunggu jaksa mengajukannya. Tapi, ada 23 ribu nasabah yang jadi korban. Menunggu keadilan. Lalu, ini kasus lain, bagaimana bisa pembeli apartemen Meikarta malah digugat secara hukum, padahal mereka memperjuangkan hak atas apartemen yang bertahun-tahun tak juga dibangun? Sementara pembayaran cicilan ke bank harus terus dibayar? Putusan homologasi PN Niaga Jakarta Pusat tahun 2020 yang memperpanjang batas penyerahan unit hingga 2027 juga sangat membuat kening berpikir keras, posisi konsumen kok selemah itu? Perusahaan se-raksasa Meikarta kok sekuat itu? Masih terbayang slogan "The Future is Here Today" yang pada 2017 begitu gencar digembar-gemborkan melalui iklan jor-joran di berbagai platform media. Apakah kasus Meikarta yang katanya proyek bernilai Rp 278 triliun bisa juga disebut kasus penipuan terbesar di negeri ini? (Ahh, sedikit plong rasanya sudah menuliskan uneg-uneg ini....)