PENGARUH “JOKOWI EFFECT” AKAN MEMBESARKAN PSI

PENGARUH “JOKOWI EFFECT” AKAN MEMBESARKAN PSI

--

Oleh: Syaiful Rosyad Fahlevi

Komite Komunitas Demokrasi Banyuasin (KKDB)

Menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada 29–31 Januari 2026 di Makassar, partai berlambang gajah ini tengah berada dalam fase penting konsolidasi organisasi. Konsolidasi tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan bagian dari strategi besar penguatan, penyatuan, serta restrukturisasi internal agar PSI menjadi organisasi yang lebih solid, efisien, dan kokoh.

Upaya ini bertujuan meningkatkan kinerja partai, memperkuat struktur kelembagaan, serta menyelaraskan visi dan misi dalam tata kelola organisasi yang lebih konkret. Selain itu, PSI juga aktif melakukan rekrutmen dan regenerasi kader sebagai investasi politik jangka panjang menuju Pemilu 2029.

Dalam dinamika persaingan politik nasional, PSI sebagai partai relatif muda menunjukkan keseriusan menyongsong pesta demokrasi mendatang. Melalui konsolidasi yang masif hingga ke daerah-daerah, PSI memanfaatkan momentum untuk memperluas basis dukungan dan memperkuat jaringan politiknya.

Salah satu faktor penting yang memperkuat posisi PSI adalah kehadiran Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo, sebagai Ketua Umum. Kehadiran Kaesang disambut hangat oleh masyarakat di berbagai daerah. Figur muda, energik, dan dekat dengan generasi milenial ini menjadi simbol regenerasi politik yang dibutuhkan bangsa.

Fenomena meningkatnya popularitas PSI tidak dapat dilepaskan dari apa yang disebut sebagai “Jokowi Effect”. Pengaruh besar Joko Widodo dalam politik nasional masih sangat terasa, meskipun beliau tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Banyak kader dari partai lain yang memilih bergabung dengan PSI, karena melihat prospek cerah partai ini di masa depan.

Menurut pengamat politik Agus Baskoro, “Jokowi Effect” menjadi magnet kuat bagi PSI dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi partai-partai lain dalam persaingan Pemilu 2029. Efek elektoral Jokowi mampu mendongkrak elektabilitas PSI sekaligus memperluas basis pemilihnya.

Di sisi lain, besarnya pengaruh Jokowi juga memunculkan upaya-upaya negatif dari pihak tertentu yang berusaha menjatuhkan keluarga Jokowi melalui fitnah dan narasi tidak berdasar. Namun, serangan-serangan tersebut justru tidak melemahkan, bahkan cenderung memperkuat kepercayaan publik. Elektabilitas Jokowi tetap tinggi, menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara beliau dan rakyat.

Fenomena masyarakat yang terus berdatangan ke kediaman Jokowi untuk bersilaturahmi, meskipun beliau tidak lagi menjabat, menjadi bukti nyata besarnya perhatian dan penghormatan publik. Hal serupa juga terlihat dari loyalitas relawan Jokowi yang tetap solid dan tidak membubarkan diri, sebagai wujud rasa hormat dan kepercayaan terhadap kepemimpinannya.

Menurut penulis, PSI merupakan partai yang relatif bersih dari beban masa lalu, tidak terikat pada konflik kekuasaan lama, serta membawa semangat perubahan dan integritas. Dengan karakter sebagai partai yang terbuka, adaptif, dan progresif, PSI memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi kekuatan politik utama di Indonesia.

Ke depan, Jokowi berpotensi memainkan peran sebagai king maker dalam percaturan politik nasional, khususnya dalam mengantarkan PSI menembus parlemen dan memperkuat representasinya di DPR RI pada Pemilu 2029. Dengan konsolidasi yang matang, kepemimpinan muda yang visioner, serta dukungan publik yang terus meningkat, PSI memiliki modal kuat untuk menjadi partai besar di masa depan.

“Jokowi Effect” bukan sekadar fenomena politik sesaat, melainkan energi sosial yang mampu menggerakkan perubahan. Jika dikelola secara cerdas dan konsisten, efek ini akan menjadi kekuatan strategis bagi PSI dalam membangun demokrasi yang lebih bersih, modern, dan berpihak pada rakyat.

Sumber: