Kekalahan dramatis di gim pertama tampaknya sedikit memengaruhi permainan wakil Indonesia pada gim kedua.
Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian tampil semakin percaya diri dan mampu mengendalikan jalannya pertandingan.
Sementara itu, Ana/Trias beberapa kali kesulitan keluar dari tekanan yang diberikan lawan.
Pasangan China terus menjaga keunggulan hingga memasuki fase akhir pertandingan.
Meski berusaha mengejar ketertinggalan, Ana/Trias tidak mampu membalikkan keadaan dan harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah 13-21 pada gim kedua.
Hasil tersebut membuat Ana/Trias harus puas mengakhiri turnamen sebagai runner up.
Namun, perjalanan mereka menuju final patut mendapat apresiasi.
Sepanjang turnamen, pasangan Indonesia tampil solid dan mampu melewati sejumlah lawan tangguh sebelum akhirnya mencapai partai puncak.
Pencapaian ini juga menjadi modal berharga bagi Ana/Trias untuk menghadapi turnamen-turnamen berikutnya.
Dengan usia yang masih produktif dan performa yang terus berkembang, pasangan ini memiliki peluang besar untuk kembali bersaing dalam perebutan gelar pada ajang internasional mendatang.
Meski gagal meraih trofi juara di Australia, keberhasilan menembus final menunjukkan bahwa Ana/Trias tetap menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia di sektor ganda putri.
Pengalaman menghadapi pasangan elite dunia pada laga final diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kualitas permainan mereka.
Australian Open 2026 memang belum berakhir dengan gelar juara bagi Ana/Trias, namun status runner up menjadi bukti bahwa mereka mampu bersaing di level tertinggi dan terus menjaga harapan Indonesia untuk meraih prestasi yang lebih besar pada masa mendatang.