Mereka mulai mampu mengimbangi tempo permainan lawan dan beberapa kali berhasil mencetak poin penting melalui variasi serangan di depan net maupun smes dari belakang lapangan.
Bahkan, pasangan Indonesia sempat memimpin dan memberikan tekanan kepada lawannya.
Sayangnya, keunggulan tersebut tidak mampu dipertahankan hingga akhir gim.
Beberapa kesalahan sendiri serta kurangnya ketenangan di momen krusial membuat pasangan Jepang kembali mengambil alih kendali pertandingan.
Fukushima/Matsumoto pun berhasil membalikkan keadaan dan menutup gim kedua dengan skor 21-16.
Usai pertandingan, Rachel mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pertandingan tanpa mengalami cedera.
Ia juga menyebut laga tersebut menjadi pengalaman berharga, terutama karena ini merupakan pertemuan pertama mereka dengan pasangan Jepang tersebut.
“Puji Tuhan bisa menyelesaikan pertandingan tanpa cedera apapun. Pertandingan hari ini jadi pelajaran baru buat saya pribadi. Ini pertemuan pertama kami, lawan sulit dimatikan dan banyak variasi serangannya,” ujar Rachel.
Ia juga mengungkapkan bahwa mereka sempat memiliki peluang di gim kedua, tetapi kehilangan fokus saat memimpin.
Hal itu membuat permainan menjadi terburu-buru dan tidak sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Sempat unggul di gim kedua namun tersusul. Kami jadi terburu-buru dan yang terjadi di lapangan tidak sesuai rencana. Fokusnya kemana-mana, banyak yang harus dijaga padahal harusnya tidak perlu takut,” tambahnya.
Rachel menilai masih banyak hal yang harus dievaluasi, terutama soal ketenangan saat menghadapi pemain papan atas dunia.
Menurutnya, keberanian menjadi kunci penting saat menghadapi lawan-lawan elite.
Sementara itu, Febi juga mengakui bahwa pasangan Jepang tampil sangat menyulitkan sepanjang pertandingan.
Ia menilai serangan keras dan dropshot lawan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
“Serangan lawan cukup kencang dan bola dropshot-nya menyulitkan serta untuk mematikan mereka juga tidak mudah. Hari ini kami mainnya tidak setenang kemarin,” ujar Febi.