HARIANBANYUASIN.COM - Fenomena sandwich generation kini semakin marak terjadi di Indonesia, terutama di kalangan usia produktif.
Istilah ini merujuk pada kondisi seseorang yang harus menanggung beban finansial untuk dua generasi sekaligus—orang tua di satu sisi dan anak di sisi lainnya.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat, banyak anak muda harus menjadi tulang punggung keluarga sejak dini.
BACA JUGA:Langka dan Diburu Kolektor, Uang Koin Rp100 Bergambar Kelapa Sawit Tembus Harga Fantastis
BACA JUGA:Matahari Super Terang, Tapi Kenapa Ruang Angkasa Gelap Gulita? Ini Jawaban Sainsnya
M ereka tidak hanya memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga membantu orang tua yang belum memiliki dana pensiun, sekaligus mempersiapkan masa depan keluarga mereka sendiri.
Data menunjukkan bahwa fenomena ini bukan hal kecil.
Bahkan, jutaan masyarakat Indonesia masuk dalam kategori ini, dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup dan tingginya ketergantungan ekonomi antar generasi.
BACA JUGA:Fenomena Hari Tanpa Bayangan: Saat Matahari Tepat di Atas Kepala dan Bayangan Seolah Menghilang
BACA JUGA:Langit Eropa Membara! Aurora Merah Langka Jadi Bukti Puncak Solar Maximum 2026
Kondisi ini membuat generasi sandwich berada dalam tekanan besar, baik secara finansial maupun mental.
Banyak dari mereka harus menunda impian pribadi, seperti membeli rumah, menikah, hingga berinvestasi untuk masa depan.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu stres, kelelahan, hingga menurunnya kualitas hidup.
Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah kurangnya persiapan finansial generasi sebelumnya, serta masih kuatnya budaya keluarga di Indonesia yang menganggap anak sebagai penopang utama orang tua di masa tua.
Selain itu, meningkatnya biaya hidup dan kesehatan juga menjadi faktor yang memperberat kondisi ini.