Memasuki gim kedua, Ana/Trias mencoba bangkit dan tampil lebih berani.
Mereka mulai mampu mengimbangi permainan cepat lawan dan beberapa kali terlibat dalam reli panjang.
Permainan pasangan Indonesia pun terlihat lebih rapi dibandingkan gim pertama.
Pertarungan berlangsung lebih ketat dengan kedua pasangan saling kejar poin.
Ana/Trias sempat memberikan tekanan melalui variasi serangan dan pertahanan yang lebih solid.
Namun, pengalaman dan konsistensi Pearly/Thinaah kembali menjadi pembeda di poin-poin krusial.
Saat memasuki fase akhir gim kedua, pasangan Malaysia mampu menjaga fokus dan memanfaatkan celah dari kesalahan Ana/Trias.
Perlahan mereka kembali menjauh dan akhirnya memastikan kemenangan dengan skor 21-18.
Hasil ini membuat langkah Ana/Trias harus terhenti di babak delapan besar.
Meski gagal melangkah lebih jauh, performa mereka sepanjang turnamen tetap menunjukkan perkembangan yang cukup positif.
Di sisi lain, kekalahan ini juga menjadi pukulan bagi kontingen Indonesia.
Pasalnya, dengan tersingkirnya Ana/Trias, Indonesia dipastikan tanpa wakil di babak semifinal All England Open 2026.
Situasi tersebut menjadi catatan penting bagi bulu tangkis Indonesia untuk melakukan evaluasi ke depan.
Turnamen bergengsi ini kembali menunjukkan ketatnya persaingan di level dunia, di mana konsistensi dan ketenangan di momen krusial menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan.
Bagi Ana/Trias, kekalahan dari pasangan papan atas dunia seperti Pearly/Thinaah tentu bisa menjadi pengalaman berharga.
Dengan usia yang masih relatif muda, peluang mereka untuk terus berkembang dan meraih prestasi di turnamen besar masih terbuka lebar di masa mendatang.