Di antaranya Afganistan, Irak, Libya, Suriah, Sudan dan banyak negeri Muslim lainnya.
Selain itu, Trump dengan BoPnya mengklaim mempuyai tujuan resmi yakni, untuk “mengelola transisi Gaza pasca konflik”, “menjaga stabilitas” dan “mencegah kekerasan berulang”.
Akan tetapi, struktur dan kewenangannya BoP justru mengarah pada pengambilalihan kendali Gaza oleh pihak asing.
Sesungguhnya, ada tujuan tersembunyi yang menjadi ambisi utama Trump.
Mengutip analisis cendekiawan Muslim ustadz Ismail Yusanto, bahwa tujuan sesungguhnya BoP "Trump" adalah:
Pertama, menghindari hambatan Rusia dan China di DK PBB
Kedua, melegalkan intervensi global AS
Ketiga, proxy governance atau kolonialisme gaya baru.
Dan yang terjadi di Gaza adalah, genosida, pengusiran paksa, pengosongan wilayah.
Setelah itu, plan New Gaza atau BoP akan dimulai. Lantas, dimana pembelaan untuk Palestina ? Tidak ada.
Bahkan, Palestina tidak diajak dalam perekrutan anggota.
Menurut Prof. Siti Mutiah Setiawati, Guru Besar Geopolitik Timur Tengah UGM, bahwa "Tanpa mengajak Palestina, membangun apapun di atasnya, adalah perbuatan ilegal".
(https://youtu.be/21dF6rQ_O3M?si=ACXzjdUAD77aSd_3).
Kita harus jujur bahwa BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, bahkan di dalam program tersebut Palestina tidak dilibatkan sama sekali.
Sebaliknya, BoP sejatinya bagian dari kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Pemerintah AS mengumumkan rencana mereka membangun “Gaza Baru” yang pada hakikatnya adalah pembangunan dari nol wilayah Palestina yang telah hancur akibat genosida oleh Zionis sejak 7 Oktober 2023.
Inilah ironi terbesar bagi dunia Islam. Kaum penjajah tampil sebagai “juru damai” bagi umat Islam.