Campak Merebak di Sumsel, Kasus Melejit Awal 2026, Dinkes Genjot Imunisasi Balita

Campak Merebak di Sumsel, Kasus Melejit Awal 2026, Dinkes Genjot Imunisasi Balita

Ilustrasi penyakit campak --

HARIANBANYUASIN.COM – Penyebaran virus campak kini tengah merebak di wilayah.

Dinas Kesehatan Provinsi mencatat lonjakan signifikan kasus suspek pada triwulan awal 2026, bahkan meningkat tajam dibandingkan tahun 2025 lalu.

Kepala Dinkes Sumsel,  mengungkapkan peningkatan kasus sebenarnya sudah terjadi sejak September 2025 dan terus berlanjut hingga kini.

“Penemuan kasus suspek tahun 2025 sebanyak 744 kasus, dengan 74 kasus konfirmasi laboratorium. Sedangkan pada 2026 ini, sejak Januari hingga 9 Maret tercatat sebanyak 1.134 kasus suspek, dengan 186 kasus konfirmasi laboratorium,” jelasnya.

Kasus suspek tersebut telah tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Kota Palembang menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 529 kasus.

Disusul Musi Rawas 101 kasus, Lubuklinggau 96 kasus, Muratara 66 kasus, Prabumulih 67 kasus, Muara Enim 57 kasus, serta Banyuasin 76 kasus. Daerah lainnya juga mencatat temuan kasus meski dalam jumlah lebih kecil.

Menurut Trisnawarman, peningkatan ini tidak hanya terjadi di Sumsel, tetapi hampir di seluruh Indonesia. Jika tidak segera dikendalikan, kondisi ini berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sebagai langkah cepat, Dinkes Sumsel akan menggelar ORI (Outbreak Response Immunization) bagi seluruh bayi dan balita usia 9 bulan hingga 5 tahun, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Program ini tahap awal dilaksanakan di empat daerah, yakni Palembang, Prabumulih, Banyuasin, dan Musi Rawas Utara.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinkes Palembang, , menyebutkan hingga Minggu ke-8 tahun ini sudah terdapat 65 kasus positif campak di Kota Palembang. Mayoritas penderita diketahui belum pernah atau tidak lengkap mendapatkan imunisasi.

“Campak merupakan penyakit menular melalui droplet, sama seperti Covid-19. Dari satu penderita, bisa menularkan ke 16 sampai 18 anak lainnya,” ujarnya.

Lonjakan kasus juga terjadi di Kota Prabumulih. Kepala Dinkes Prabumulih,  menyebutkan dari 56 sampel yang diperiksa, 17 di antaranya dinyatakan positif campak dan sebagian lainnya masih menunggu hasil.

“Ini masuk potensi KLB. Karena itu, kami akan melaksanakan vaksinasi luas sesuai arahan Kementerian Kesehatan, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya,” tegasnya.

Di Kabupaten Banyuasin, Plt Kadinkes Banyuasin dr Indah Daryani melalui Kabid P2P, Eni Diana, mengungkapkan kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Banyuasin II (Sungsang) dengan 22 penderita, serta Kecamatan Talang Kelapa sebanyak 16 orang, masing-masing di Kenten Laut dan Gasing.

Dinkes Banyuasin akan melaksanakan program ORI dan CUC seperti PIN Polio guna menekan penyebaran.

Sumber: